Perempuan dalam tekanan
Kenapa kami (powerpuffgirls) membahas tentang perempuan dalam tekanan? Mungkin karena kami sendiri adalah perempuan.
Dan menurut kami issue ini adalah issue yang akan selalu hangat diperbincangkan ketika masih belum teratasi. Kami juga melihat dan merasa bahwa sebagai perempuan banyaknya batasan dan tekanan yang dialami.
Dan menurut kami issue ini adalah issue yang akan selalu hangat diperbincangkan ketika masih belum teratasi. Kami juga melihat dan merasa bahwa sebagai perempuan banyaknya batasan dan tekanan yang dialami.
Gak usah jauh jauh deh, ketika kita nonton TV, trus nonton sinetron kesayangan kita, ada saja adegan dimana sang perempuan ditekan habis habisan secara psikis dan fisik. Atau bagi yang gemar nonton drama seri korea, pernah nonton film Hwangjini? Itu loh drama seri yang mengisahkan tentang seorang seniman wanita yang cukup tersohor pada era Joseon. Di serial drama ini, diceritakan karena begitu tersohornya Hwangjini begitu banyak lelaki yang tertarik dengannya. Dari yang seorang biasa sampai pejabat pejabat tinggi naksir dengannya. Dan karena begitu banyaknya yang jatuh cinta dengannya, banyak lelaki lelaki kaya yang tidak segan menawar dirinya. Mau contoh yang lebih nyata lagi? Nonton saja berita berita di televisi, banyak sekali kasus pemerkosaan, dan penganiyaan terhadap perempuan.
Hal hal tersebut terasa begitu akrab dengan kehidupan sosial di sekitar kita. Malah semakin terasa biasa dan cenderung diwajarkan. Coba pikirkan beberapa pertanyaan berikut:
· Mengapa bayi laki laki lebih diharapkan lahir sebagai anak pertama daripada bayi perempuan?
· Mengapa banyak wanita yang sudah menikah tidak boleh bekerja?
· Mengapa wanita ketika mencapai umur 25 tahun harus segera menikah?
· Mengapa laki laki bebas menikah umur berapapun?
· Mengapa banyak perempuan memilih untuk menikah daripada bekerja atau berkuliah hingga mencapai gelar yang tertinggi?
· Mengapa Tenaga kerja wanita yang paling sering dianiaya daripada tenaga kerja laki laki?
· Mengapa banyak kasus kriminalitas yang menjadikan perempuan sebagai korban?
· Mengapa begitu banyak tersedia pekerja seks komersial yang adalah wanita di sekitar kita?
· Mengapa ada ayam kampus yang identik dengan perempuan?
· Mengapa jatah untuk wanita dalam legislatif hanya 30 persen?
Mungkin jawabannya bisa berbagai macam. Ketika kami memikirkan pertanyaan pertanyaan itu, berbagai macam pemikiran yang dapat kami diskusikan. Banyak orang tua, menganggap bahwa anak laki laki adalah penerus generasi mereka. Ketika anak perempuan yang lahir, mereka akan mencoba untuk mendapatkan anak laki laki. Banyak orang menganggap bahwa perempuan lebih pantas untuk berada dirumah dengan segala aktivitas di dalamnya (ruang lingkup aktivitas domestik). Ketika wanita memilih untuk berkarir banyak sekali desakan dari sekitarnya untuk segera mengakhiri aktivitas publiknya dan beralih untuk menjalankan aktivitas domestiknya. Maka gak heran banyak perempuan lebih diarahkan untuk segera menikah dan berkeluarga daripada merintis karir.
Perempuan sering dijadikan sebagai sasaran empuk abuse. Abuse adalah istilah kekerasan yang terjadi dalam sebuah hubungan sosial. Entah secara fisik ataupun mental. Pernah nih ketika salah satu teman kami berjalan disebuah trotoar di suatu jalan di kota Probolinggo, secara tiba tiba ia mengalami pelecehan seksual. Maaf, her buttocks dipegang secara paksa dengan seorang laki laki yang sedang mengendarai sepeda motor. Kontan teman kami itu berteriak dan menangis seketika karena begitu shock nya. Lebih parah lagi ketika kerusuhan mei 1998, korban yang paling banyak dan meninggalkan trauma cukup dalam adalah perempuan. Banyaknya perempuan dari etnis tionghua dari berbagai kalangan umur diperkosa dan dibunuh begitu saja tanpa tahu salah mereka apa. Dan kejamnya lagi mereka diperlakukan seperti itu di depan hadapan keluarga mereka.
Adanya begitu banyak batasan dan tekanan yang dialami oleh perempuan yang menjadikan perempuan sebagai back side dari laki laki. Pada nyatanya ketika wanita diperlakukan istimewa oleh lingkungan sosial sebagai makluk yang lemah, perempuan cenderung mengiyakan perlakuan tersebut. Ketika lingkungan sekitar perempuan tersebut menanamkan bahwa sebagai perempuan mempunyai kodratnya sebagai wanita yang lemah, back side dari laki laki, perempuan harus diam dirumah dan sedikit mempunyai aktivitas di publik dll. Dan celakanya perempuan mengamini semua batasan tersebut, maka gak heran masih banyak perlakuan yang menomor dua kan wanita dan bahkan melecehkan wanita.
Menurut kami hal yang paling mendasar untuk menyikapi hal ini adalah merubah dan membentuk pemikiran kita sebagai perempuan untuk menyadari bahwa kita mempunyai hak yang sama dengan laki laki. Ketika kita sebagai perempuan mengiyakan pandangan sekitar sebagai makluk yang lemah, maka segala bentuk tekanan, dan pandangan sebelah mata dari lingkungan sekitar terhadap kita (perempuan) tidak akan dapat teratasi. Ketika kita mengiyakan pandangan pandangan tersebut, kita akan merasa bahwa memang sudah seharusnya itu yang kita alami. Tidak akan ada jatah kursi legislatif yang bertambah untuk perempuan ketika perempuan tidak berani memutuskan untuk berpolitik daripada memilih untuk berdiam di rumah. Pekerja seks komersial ataupun ayam kampus tidak akan bertambah ketika perempuan lebih menghargai dirinya.
Jadi pesan kami kepada perempuan adalah ubah pikiran anda yang selama ini menganggap kejadian kejadian yang telah dicontohkan di atas adalah sebuah takdir yang tidak dapat diubah, hargailah diri anda setinggi mungkin, tunjukan bahwa anda mempunyai hak yang sama, kemampuan yang sama dan patut untuk diperhitungkan.
Dan pembaca lelaki, powerpuffgirl mau menyampaikan bahwa bersiaplah untuk menjadi rival kami (perempuan), karena kami tidak kalah hebat dan kuat dari pada kalian. :p
Hal hal tersebut terasa begitu akrab dengan kehidupan sosial di sekitar kita. Malah semakin terasa biasa dan cenderung diwajarkan. Coba pikirkan beberapa pertanyaan berikut:
· Mengapa bayi laki laki lebih diharapkan lahir sebagai anak pertama daripada bayi perempuan?
· Mengapa banyak wanita yang sudah menikah tidak boleh bekerja?
· Mengapa wanita ketika mencapai umur 25 tahun harus segera menikah?
· Mengapa laki laki bebas menikah umur berapapun?
· Mengapa banyak perempuan memilih untuk menikah daripada bekerja atau berkuliah hingga mencapai gelar yang tertinggi?
· Mengapa Tenaga kerja wanita yang paling sering dianiaya daripada tenaga kerja laki laki?
· Mengapa banyak kasus kriminalitas yang menjadikan perempuan sebagai korban?
· Mengapa begitu banyak tersedia pekerja seks komersial yang adalah wanita di sekitar kita?
· Mengapa ada ayam kampus yang identik dengan perempuan?
· Mengapa jatah untuk wanita dalam legislatif hanya 30 persen?
Mungkin jawabannya bisa berbagai macam. Ketika kami memikirkan pertanyaan pertanyaan itu, berbagai macam pemikiran yang dapat kami diskusikan. Banyak orang tua, menganggap bahwa anak laki laki adalah penerus generasi mereka. Ketika anak perempuan yang lahir, mereka akan mencoba untuk mendapatkan anak laki laki. Banyak orang menganggap bahwa perempuan lebih pantas untuk berada dirumah dengan segala aktivitas di dalamnya (ruang lingkup aktivitas domestik). Ketika wanita memilih untuk berkarir banyak sekali desakan dari sekitarnya untuk segera mengakhiri aktivitas publiknya dan beralih untuk menjalankan aktivitas domestiknya. Maka gak heran banyak perempuan lebih diarahkan untuk segera menikah dan berkeluarga daripada merintis karir.
Perempuan sering dijadikan sebagai sasaran empuk abuse. Abuse adalah istilah kekerasan yang terjadi dalam sebuah hubungan sosial. Entah secara fisik ataupun mental. Pernah nih ketika salah satu teman kami berjalan disebuah trotoar di suatu jalan di kota Probolinggo, secara tiba tiba ia mengalami pelecehan seksual. Maaf, her buttocks dipegang secara paksa dengan seorang laki laki yang sedang mengendarai sepeda motor. Kontan teman kami itu berteriak dan menangis seketika karena begitu shock nya. Lebih parah lagi ketika kerusuhan mei 1998, korban yang paling banyak dan meninggalkan trauma cukup dalam adalah perempuan. Banyaknya perempuan dari etnis tionghua dari berbagai kalangan umur diperkosa dan dibunuh begitu saja tanpa tahu salah mereka apa. Dan kejamnya lagi mereka diperlakukan seperti itu di depan hadapan keluarga mereka.
Adanya begitu banyak batasan dan tekanan yang dialami oleh perempuan yang menjadikan perempuan sebagai back side dari laki laki. Pada nyatanya ketika wanita diperlakukan istimewa oleh lingkungan sosial sebagai makluk yang lemah, perempuan cenderung mengiyakan perlakuan tersebut. Ketika lingkungan sekitar perempuan tersebut menanamkan bahwa sebagai perempuan mempunyai kodratnya sebagai wanita yang lemah, back side dari laki laki, perempuan harus diam dirumah dan sedikit mempunyai aktivitas di publik dll. Dan celakanya perempuan mengamini semua batasan tersebut, maka gak heran masih banyak perlakuan yang menomor dua kan wanita dan bahkan melecehkan wanita.
Menurut kami hal yang paling mendasar untuk menyikapi hal ini adalah merubah dan membentuk pemikiran kita sebagai perempuan untuk menyadari bahwa kita mempunyai hak yang sama dengan laki laki. Ketika kita sebagai perempuan mengiyakan pandangan sekitar sebagai makluk yang lemah, maka segala bentuk tekanan, dan pandangan sebelah mata dari lingkungan sekitar terhadap kita (perempuan) tidak akan dapat teratasi. Ketika kita mengiyakan pandangan pandangan tersebut, kita akan merasa bahwa memang sudah seharusnya itu yang kita alami. Tidak akan ada jatah kursi legislatif yang bertambah untuk perempuan ketika perempuan tidak berani memutuskan untuk berpolitik daripada memilih untuk berdiam di rumah. Pekerja seks komersial ataupun ayam kampus tidak akan bertambah ketika perempuan lebih menghargai dirinya.
Jadi pesan kami kepada perempuan adalah ubah pikiran anda yang selama ini menganggap kejadian kejadian yang telah dicontohkan di atas adalah sebuah takdir yang tidak dapat diubah, hargailah diri anda setinggi mungkin, tunjukan bahwa anda mempunyai hak yang sama, kemampuan yang sama dan patut untuk diperhitungkan.
Dan pembaca lelaki, powerpuffgirl mau menyampaikan bahwa bersiaplah untuk menjadi rival kami (perempuan), karena kami tidak kalah hebat dan kuat dari pada kalian. :p
Tidak ada komentar:
Posting Komentar